Tragedi, Fantasi dan Dunia Lain – Chapter 4: Invasi Tak Terduga

Chapter 4 : Invasi tak terduga

Ruangan dengan lantai berdebu dengan dinding yang terbuat dari kayu yang sudah lapuk termakan usia serta jendela tanpa kaca yang berfungsi sebagai ventilasi udara dan cahaya masuk.
Juga ada penggorengan dan panci yang tergantung pada paku di samping jendela tersebut.

Ditengah ruangan itu, ada meja kayu yang terlihat sudah lapuk, seakan-akan bisa hancur kapan saja.
Tiga pemuda duduk di bangku tua mengelilingi meja tersebut dengan wajah yang seolah-olah sudah menyerah.

“Aaaahh!! Aku tidak tahan lagi!”

Lutvi menggebrak meja tua yang reyot itu menyebabkan gelas tumpah membasahi permukaannya.
Ia begitu marah sampai-sampai suara gemeretak giginya sampai terdengar oleh Hamid dan Hasbi.

“….Maaf, aku tidak bisa membantu apapun.” Kata Hasbi yang duduk di sebelahnya, Hasbi tertunduk dengan wajah murung.

“Haaaaaaa…. Sulit sekali mencari uang dan pekerjaan di kota ini.” keluh Hamid di arah yang berlawanan dengan Lutvi, menundukkan kepala sampai menyentuh meja, atau lebih tepatnya meletakkan kepalanya diatas meja.

“Orang-orang di kota ini benar-benar sangat kikir! Apakah disini tidak mengenal amal baik atau sumbangan untuk orang miskin gitu!? Padahal aku tidak meminta dikasihani atau apapun, aku hanya ingin bekerja. Hanya karena aku masih belum menguasai bahasa lokal, mereka menolak kita begitu saja? Apa-apan itu!? Mereka benar-benar kikir, kena azab baru tau rasa mereka itu!”

Lutvi berteriak bersumpah-serapah meluapkan semua kekesalannya pada penghuni kota.
Suaranya menggema didalam ruangan belakang yang berfungsi sebagai dapur dari markas mereka.

Dua minggu telah terlewati semenjak mereka datang, namun tetap tidak mendapatkan sumber penghasilan yang memadai untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. uang yang mereka dapatkan saat Hamid berburu sudah hampir habis, tapi mereka masih belum menghasilkan uang. Hamid-pun tidak mau mengambil resiko kehilangan pakaian lagi, jadi ia tidak pernah berburu setelah itu.
Mereka bertiga juga sudah mencoba mencari pekerjaan di pasar kota, mengunjungi pedagang untuk untuk menawarkan diri menjadi pekerja, bahkan mencoba menjual barang mereka seperti lampu senter namun hasilnya nihil, tidak ada yang mau membelinya. berdagang adalah hal yang mustahil karena tidak punya modal dan mungkin juga memerlukan surat izin dari penguasa lokal dan sejenisnya.
Begitu juga bangunan tua yang mereka sebut sebagai markas; yang hanyalah rumah tua tak terurus, dindingnya banyak retak dan lubang dimana-mana, kamar mandi terbuka, lantai yang berdebu dan berlumut, langit-langit yang bolong dan akan sangat dingin jika malam hari tiba. Semua itu membuat mereka ingin segera pindah dari tempat ini dan tinggal di tempat yang lebih baik atau penginapan yang nyaman.
Namun, seolah hanya menjadi mimpi, hal itu adalah mustahil untuk kondisi keuangan yang sekarang ini.

“Haaa.. Ini benar-benar buruk. kalau begini terus, rasanya pengen pulang saja.” keluh Hamid yang menopang kepala dengan kedua tangannya diatas meja.

“Bener, lagipula kenapa sih kita ada disini? Padahal tujuan kita mendaki gunung, bukan nyasar di dunia lain!” kata Lutvi. “Padahal kita bukan pengangguran yang menyerah pada kehidupan saat masih di dunia asal kita. Jika begini terus, malah kita yang terlihat seperti pengangguran sungguhan.”

“Tapi bukankah hanya Hasbi yang pengengguran disini?” Sahut Hamid.

“Eeh…? Aku!? A-aku bukan pengangguran, aku cuma bekerja disaat-saat tertentu!” Hasbi berkata dengan sedikit panik sehingga membuat ia seolah-olah terlihat seperti orang bersalah. “Lagipula , Lagipula kita berada disini juga bukan salahku!”

“Kalau bukan salahmu, lalu kenapa kau nge-gas? Santai bae lah bicaranya.” Lutvi yang mood-nya terlihat sudah membaik berkata pada Hasbi. “Yah, jika dipikir lagi, memang itu bukanlah salahmu, tapi kaulah yang saat kita berangkat berbicara tentang dunia lain dan sejenisnya. Itu sama saja mengibarkan flag, tau!?” Lanjutnya.

“Ta-tapi, tapi itukan memang bukan salahku! Lagipula bukan hanya kita kan yang dikirim kesini? Ini…. Ini hanya sekedar ketidak sengajaan, bukankah begitu!?

“Itu juga hanya Hipotesis si Hamid saja, belum diuji kebenarannya. Dan sudah kubilang, kan? ini memang bukan salahmu, tapi tetap saja salahsatunya kau yang memasang flag! lagipula-”

“Sudahlah kalian berdua, Hal ini tidak ada gunanya!” Hamid berkata dengan kesal memotong perkataan Lutvi dan sedikit memukul meja untuk menghentikan kedua temannya yang saling melempar omong kosong.

“Tidak ada gunanya bertengkar, ini bukan salah siapapun! Lagipula… Kita harus cepat mencari dana untuk hidup…” Hamid memejamkan mata, mengernyitkan dahi dan memijitnya seperti orang terkena sakit kepala.
Lutvi dan Hasbi hanya terdiam.

Lutvi menarik nafas.
“Hamid, berapa banyak sisa koin perunggu yang kita miliki?” Lutvi bertanya pada Hamid yang terlihat stres.

“7 koin perunggu.” balas Hamid singkat.

“…. Kita akan mati.” ucap Hasbi dengan suara putus asa dan menutup wajah.

Mereka semua tertunduk lesu dan tenggelam dalam kesunyian.
Dalam hati mereka berharap ada seseorang yang mau memberikan uluran tangan untuk menolong mereka yang tengah berada dalam kubangan nasib buruk ini.
Namun, seberapa banyakpun mereka memohon, mengemis dan menangis, hal itu takkan terjadi.

Bayang-bayang mati kelaparan sudah menghantui mereka sejak hari pertama datang, dikarenakan tidak punya apa-apa selain diri mereka sendiri.
Jangankan uang, bahasa saja tidak mereka mengerti.
Namun, Lutvi masih yakin. Seburuk apapun keadaan, mereka takkan mati sia-sia disini.

“Tidak….” Lutvi menyahut setelah keheningan sesaat. “Kita tidak boleh mati disini, kita tidak boleh menyerah sekarang, kita tidak akan mati kelaparan! Kita sudah berjuang sekuat tenaga untuk hidup! Aku percaya Tuhan takkan membiarkan kita mati kelaparan setelah semua usaha kita!” Ia bangkit dari duduknya, mengangkat tangan kanannya yang dikepalkan setinggi kepala. “Ingatlah, usaha takkan menghianati hasil. Kita harus bertahan hidup sampai kita kembali pulang! Ayo, jangan putus asa! Masa depan menunggu kita!”

Lutvi berkata layaknya motivator di acara TV. namun bagaimanapun, hal itu tidak berpengaruh pada kedua temannya yang sepertinya sudah kehilangan semangat.

mereka berdua bukannya bersemangat malah membalas Lutvi dengan tatapan seolah-olah melihat orang bodoh yang banyak bicara.

“Lalu? Apa kau punya rencana lagi?” Hamid merespon kata-kata Lutvi itu dengan pertanyaan langsung ke inti masalah.

“Benar, Apa kau punya cara lain untuk menghasilkan uang dengan mudah dan cepat?” Hasbi juga ikut bertanya.

“U-untuk itu.. Hmm… Itu… Yah itu…” Lutvi menjadi tergagu dan tampak kebingungan.
Ia sebenarnya tidak punya lagi rencana yang bisa dilakukan untuk mendapatkan uang secara halal. Hanya ada dua pilihan, yaitu menjadi budak, dan yang lainnya adalah mencuri, namun karena resikonya tinggi, ia pun tetap tidak memilih rencana itu.

“Haaaaaahhhhh… Ini tidak ada gunanya!” Hamid berteriak kesal sembari membenamkan wajahnya ke meja sekali lagi.
Begitu pula dengan Hasbi yang sama-sama membenamkan wajahnya ke meja.
Melihat kawan-kawannya sudah kehilangan semangat sampai pada titik ini, ia tak bisa menolongnya.
Ia pun kembali duduk dan sama-sama membenamkan wajahnya ke meja menyisakan kesunyian untuk beberapa saat.

“Ketua, kita bicarakan ini lagi.” Hamid mulai bicara dengan nada serius, itu terlihat dari ekspresi di wajahnya. “-Maksudku, apa yang akan kita lakukan sekarang, dan tujuan akhir kita? Apakah kita akan disini selamanya ataukah kita akan kembali pulang ke dunia asal kita?”

Mendengar pertanyaan itu, Lutvi mengernyitkan dahi dan memejamkan mata seolah-olah ia berkonsentrasi mencari jawaban yang pas untuk pertanyaan itu.

Ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya ia berbicara bagaikan bendungan jebol.
“….Untuk sekarang, kita akan tetap mencari informasi, mencari uang untuk makan, belajar membaca dan menulis bahasa lokal dan,-uh ya kau tau sendiri kita membutuhkan pekerjaan, tempat tinggal yang layak, pakaian dan hal-hal lain yang menjadi kebutuhan kita sebagai manusia. Sembari kita akan mencari tau tentang dunia macam apa yang kita tempati sekarang, kita juga akan mencari soal mitos atau apapun yang berkaitan dengan dunia paralel atau sejenisnya sekaligus mencari cara untuk kita kembali pulang.”
Lutvi berhenti sesaat, ia menarik nafas lagi dan menundukkan pandangannya.
“…Itupun…. Itupun jika memang ada jalan pulang.” ia berkata dengan suara kecil.

“Hey hey, ketua.. Apa kau sadar, ternyata kota ini kota benteng!.” Hasbi, yang tadi merasa bersalah mencoba mengalihkan percakapan.

“Aku tau..” Lutvi membalasnya dengan ketus. “Memangnya kau baru menyadarinya ya?”

“-Yaa, begitulah. Kalo tidak salah, tembok besar itu berada di bagian barat kan?” Kata Hasbi, “Pantas saja tidak terlihat saat kita datang kesini karena terhalang bukit… Tapi ini aneh, kenapa hanya bagian itu saja yang dibangun tembok sementara disini di bagian timur, tidak.. Hmm”

Lutvi mendesah menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Hasbi.
“Mereka juga punya alasan, Hasbi.” kata Lutvi, “Kau juga lihatnya kan kalo kota ini berdiri diatas bukit, dan bagian timur ini berbatasan dengan jurang yang cukup dalam dan di dasarnya terdapat sungai beraliran deras, -oh juga sungai itu jalurnya berbelok-kelok.”

“Benar, jadi kurasa mereka tidak perlu repot-repot membangun tembok raksasa di bagian ini karena sudah terhalang oleh jurang.” Hamid ikut-ikutan, ia meneruskan perkataan Lutvi. “-Yah, dan dari sisi ini setelah melewati jembatan, hampir seluruhnya Hutan dengan area yang luas sampai tembus ke pegunungan. kurasa bandit ataupun monster tidak akan capek-capek menempuh sisi ini untuk jalur invasi. Meskipun begitu, penjagaan di bagian ini lumayan juga.”

“Bener mid.” Lutvi mengangguk setuju atas apa yang diucapkan Hamid.
Di sisi lain, Hasbi yang memperhatikan mereka juga mengangguk seolah mengerti.

“Kalo begitu…” Lutvi bangkit dari duduknya. “Aku akan keluar.”
Ia berjalan keluar menuju halaman belakang.

“Lho? Katanya keluar tapi malah ke belakang?”

“Kau mau kemana, ketua?”

Hamid dan Hasbi bertanya hampir bersamaan, namun Lutvi tak menanggapi mereka, ia terus berjalan menuju sudut halaman belakang dan mengambil sesuatu.
Lalu Ia kembali lagi ke ruangan sambil membawa sebatang ranting dengan tali mengikat pada salahsatu ujungnya dan mata kail yang diikatkan pada ujung tali yang lain, dari apa yang terlihat, sudah dapat dipastikan ia akan pergi kemana.

“….ketua, apa kau tidak ada hal yang bisa dilakukan selain memancing, hah?” Hamid bertanya dengan menyipitkan matanya setelah melihat Lutvi yang terlah masuk kembali.

Lutvi berhenti, ia berbalik ke arah Hamid dan mengangkat bahu.
“Mau bagaimana lagi! aku memang tidak punya pekerjaan atau apapun yang bisa dilakukan sekarang selain ini, Lagipula kau juga sudah tau ini merupakan hobi!.”
Ia melanjutkan berjalan lagi.

“Tunggu, aku ikut!” Hasbi tiba-tiba berdiri dari duduknya dan menyusul Lutvi yang sedang berjalan menuju lorong ruangan utama,

“Tunggu, ketua, Hasbi.” Hamid juga berdiri dan memanggil Lutvi dan Hasbi, mereka berdua menghentikan langkah kaki dan berbalik pada Hamid yang menghampiri mereka. “-Ambil ini, setidaknya untuk jaga-jaga.”

Hamid mengambil 5 koin perunggu dari kantung jaketnya dan memberikannya pada Lutvi.
Lutvi menerimanya tanpa mengatakan apapun.

“Cukup segitu? Berarti sisanya untukku, aku juga akan keluar sebentar karena ada sesuatu yang harus kuselidiki.”

“Hmm… Kurasa, setidaknya untuk beli roti. Dan, -ah ngomong-ngomong, lebih baik kau disini saja, lagian gak ada yang jagain tas-tas kita. Apa kau gak khawatir gitu?”

“Lha? Khawatir bagaimana? Tak ada hal yang bisa dicuri dari kita, toh kita mencoba menjual senter saja orang-orang lokal disini tidak mau membelinya.” Kata Hamid. “-Lagipula ini aneh, Hasbi! Biasanya kaulah yang tidak mau keluar, tapi sekarang kau bertingkah seolah bukan dirimu!” ia menunjuk Hasbi yang berdiri disamping Lutvi.

“Ya, itu karena aku juga ingin keluar! Aku bosan, tidak ada game, internet, TV, komputer dll. Setiap kali aku menunggu disaat kalian keluar sangatlah menyiksa! Aku ingin melihat pemandangan alam dunia ini, menghirup udara segar yang belum tersentuh polusi pabrik dan kendaraan bermotor! Kalian selalu saja menganggapku kalau aku ini sejenis anjing penjaga! itu tidak enak kawan!” kata Hasbi, ia terlihat protes pada sikap teman-temannya yang selalu saja merendahkannya.

“…. Ya itu sih karena kebiasaanmu saat di dunia asal kita, kau tak mau keluar rumah….” Hamid menggaruk belakang kepalanya dan bergumam dengan suara yang tidak bisa didengar Hasbi dan Lutvi.

Lutvi mendesah dan mengangkat bahu. ” Kalau begitu, sampai jumpa nanti sore, Hasbi. Ayo pergi..”
Hasbi mendengus dan keluar dari markas bersama Lutvi, mereka berjalan melewati gang dengan jalan menurun yang menjadi pemisah antar rumah-rumah dan juga jalan menuju jalan utama.
Mereka berdua berjalan sampai tidak terlihat oleh Hamid karena terhalang bangunan.

Hamid mendesah panjang. “….Sepertinya aku juga harus pergi.”


Daerah ini merupakan daerah yang lumayan padat penduduk.
Terlihat dari rumah-rumah yang berdesakan juga jalan gang yang menjadi sekat antar rumah, beberapa rumah ada yang terbuat dari batu bata merah, sebagian lain terbuat dari kayu dan ada yang campuran antara batu bata sebagai pondasinya dan kayu sebagai temboknya.

Rumah-rumah itu terlihat dibangun dengan model klasik, namun jika dilihat lebih dekat bangunan-bangunan ini ternyata lebih kokoh daripada perkiraan.
Hamid berjalan di jalanan berbatu dengan jalur menanjak melewati rumah-rumah warga yang berjejer sepanjang jalan.

sama seperti biasa, penduduk lokal tetap menatap Hamid yang tengah berjalan dengan pandangan aneh, seperti ada alien yang lewat, terlebih karena pakaian Hamid yang kontras dengan penduduk yang berpakaian lebih sederhana.

Diantara penduduk juga ada yang membicarakan Hamid, namun Hamid hanya pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan.

Yah, itu semua adalah sesuatu yang wajar, dan meski sudah dua minggu Hamid dan kawan-kawannya disini, tetap tidak ada yang berubah sama sekali.

Hamid terus berjalan ke arah utara hingga sampailah ia pada sebuah bangunan besar dengan cat putih yang terlihat halus, tidak terlalu besar sih, hanya setinggi dan sebesar gedung pasar swalayan dan terlihat sangat mewah jika dibandingkan dengan rumah-rumah lainnya, juga dengan alun-alun yang bersih dan terawat.

Oh iya, aku lupa mencari info penguasa daerah sini… Hmm, ini mungkin kantor administrasi dari gubernur kota ini? Atau mungkin ini malah rumah dari bangsawan itu? Ini bangunan terbesar di kota kan? Kastil kah?
Hamid bebegang dagu, ia bertanya-tanya dalam pikirannya. ia sekarang berdiri menghadap bangunan itu agak lama sampai tiba-tiba ada seorang berbadan tinggi besar dengan memakai armor yang menutupi seluruh tubuh berjalan terburu-buru menghampirinya.
Hamid yang menyadari itu langsung angkat kaki secepat yang ia bisa menginggalkan bangunan besar itu karena merasa akan ada masalah jika ia tetap berdiri disana, terlebih ia adalah orang asing.

Apa-apaan itu? Bikin kaget saja!

Hamid yang tadi berlari sekarang bersembunyi dibalik sebuah bangunan yang cukup jauh dari bangunan besar tadi, ia mengintip dari bangunan itu untuk memastikan apakah ia dikejar oleh orang tadi atau tidak.
Hamid mendesah dan merasa tenang setelah mengetahui ia tidak dikejar, ia lalu melanjutkan perjalanannya menuju arah suatu tempat yang menjadi tujuannya.

Hah.. Aku sekarang merasa seperti maling saja, tapi tunggu dulu, -Aaah! Aku lupa menanyakan siapa nama gubernur kota ini!

Hamid berhenti berjalan dan memegang kepalanya, ia merasa menyesal karena langsung kabur tanpa menanyakan apapun.

Apakah aku harus balik lagi kesana dan bertanya pada orang itu? Hmmm. -Tunggu dulu, kenapa aku malah mengambil jalan memutar? Apakah ini karena rasa penasaranku yang membawaku kesini? Kenapa ini?
Hamid terdiam dan berfikir.

Ah, terserahlah, mendingan langsung saja ke ‘tempat’ itu.
Hamid berkata dalam hati.

Langkah kaki Hamid kini membawanya terus ke sebelah barat laut. rumah-rumah dengan dinding kayu yang terlihat lapuk semakin menumpuk dan jalan semakin sempit, juga tercium bau tidak sedap dari bangunan-bangunan itu serta suasana yang terkesan suram.
Sudah bisa dipastikan, tempat ini adalah area kumuh.
Sebenarnya, Hamid sudah beberapa kali melewati area ini, namun belum pernah menyusurinya sampai ke dalam.

Apakah aku harus masuk kesini?
Pikir Hamid. Ia masih ragu-ragu dengan apa yang akan dilakukannya selanjutnya.

Setelah bergelut dengan fikirannya, Hamid akhirnya kalah dan memutuskan untuk tidak memasuki area kumuh itu. Ia lalu memilih jalan lain dengan berjalan lurus ke arah barat.

Jalan ini terlihat agak luas, begitu juga dengan sisi-sisinya yang hanya ditembok setinggi perut.
Hamid bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian tempatnya berdiri. deretan rumah, sungai yang membelah kota, pasar bagian barat dan lainnya berjejer sampai ke tembok yang menjulang tinggi sebagai pelindung kota.

Hamid termenung melihat pemandangan di depannya.
Ia masih tak menyangka dirinya bisa berada di kota ini, kota asing yang bahkan belum ia ketahui namanya. Ia teringat hal penting, ia sadar bahwa belajar membaca dan menulis bahasa lokal adalah prioritas utama disamping mencari uang untuk makan. Ia memikirkan Hasbi dan Lutvi, apakah mereka berdua akan bertahan dengan gaya hidup baru ini? Tapi, meski mereka berdua berkata baik-baik saja, raut wajah mereka mengatakan sebaliknya. Itu menambah beban fikirannya.

Hamid mendesah panjang berbarengan dengan angin yang menerpa wajahnya.

Yahh, kurasa masalah esok hari, ku serahkan pada diriku di esok hari.
Hamid berkata di fikirannya sambil lanjut berjalan.


Sungai berair jernih mengalir deras dari timur ke barat dengan alur berkelok memisahkan kota.
Jarak antara sisi sungai itu lumayan luas, namun itu terhubung dengan jembatan beton yang kini Hamid sedang berdiri diatasnya.
Jembatan ini pun lumayan lebar dan sepertinya bisa cukup untuk 7 orang jika berjalan berdampingan. Jembatan itu dibangun dengan semacam beton dan lumayan kokoh.

Hamid berada di sisi jembatan melihat aliran air sungai yang mengalir deras, beberapa anak-anak juga terlihat bergembira, mereka berenang di sungai itu.
Begitupula dengan suasana kota di bagian ini yang terlihat lebih ramai jika dibandingkan dengan di bagian timur, Rumah-rumah di sini juga terlihat lebih tertata rapi dengan jalan-jalan yang bersih, sangat berbeda dengan di timur dan di wilayah kumuh.

Setelah berhenti beberapa saat, Hamid kembali berjalan.
Kali ini, kakinya membawanya ke pasar bagian barat. Jika dibandingkan dengan pasar di bagian timur dekat markas, pasa ini terlihat lebih besar dan ramai, juga stand-stand yang berjejer di sisi-sisi jalan terlihat lebih banyak.

Pedagang buah, pedagang sayur, pedangan ikan dan banyak pedagang lainnya saling menyahut mencoba menarik pelanggan yang lewat.

Pria-pria kekar dengan wajah sangar juga terlihat berada di sela-sela gang, dilihat darimanapun sudah bisa dipastikan mereka adalah preman pasar, atas sejenisnya.

Beberapa orang terlihat membawa senjata dan memakai baju armor berbagai macam, dari yang armor kulit sampai ke full-armor besi berlalu-lalang di jalanan, ada pula yang keluar dan masuk sebuah bangunan mirip warung, atau bar.

Hamid berhenti di sebuah bangunan, ia yakin kalau bangunan di depannya juga merupakan sebuah warung minum, atau bar.
Ia terlihat ragu-ragu, atau mungkin terlihat belum siap mentalnya bertemu wajah-wajah baru lagi.
Yang ia fikirkan adalah bagaimana ekspresi orang-orang didalam ketika ia masuk kesana. Itu benar-benar mengganggunya.
Namun, sepertinya ia pun harus memaksakan diri untuk masuk kesana. Demi mendapat informasi. dalam fikirannya, mungkin cara terbaik memperoleh informasi mengenai kota dan sejenisnya adalah lewat Bar atau warung, dan memang itu berhasil. Ia mendapatkan beberapa informasi berasal dari warung yang pernah ia kunjungi.

Ketika Hamid sudah akan meraih gagang pintu itu, tiba-tiba sesuatu terjadi.
Suara lonceng berdenting terus menerus, suara lonceng itu berasal dari menara di puncak bukit, biasanya digunakan ketika menjelang fajar dan menjelang malam. Namun kali ini berbeda, suara itu seperti memperingatkan sesuatu yang besar akan terjadi.

Benar saja, para penduduk kalang-kabut berlarian kesana-kemari, berteriak-teriak, mereka berdesak-desakkan sampai-sampai menabrak meja-meja dan stand-stand pedagang, bahkan ada kios yang rusak hingga hancur.
Semua orang kebingungan, termasuk Hamid.
Ia terdorong tergencet dan tertelan oleh aliran tubuh manusa yang seolah-olah berusaha keluar dari area pasar secepat yang mereka bisa. Mau melawan pun sulit dikarenakan dorongan yang begitu kuat.

“Mereka datang!” ucap seorang penduduk.

“Lari! Lari demi nyawamu!” ucap penduduk lainnya.

Ada apa sebenarnya ini?
Hamid bertanya-tanya, ia dengan keadaan ini.

“Hey! Jangan injak kakiku!” suara yang kasar terdengar dari sisi Hamid, tenyata ia tidak sengaja menginjak kaki seseorang.
“Ma-maaf.” balas Hamid. Meski begitu, ia tidak begitu jelas melihat wajah orangnya, ia tidak tahu, ia kebingungan. Ia sekuat tenaga menerobos kerumunan orang itu dan berhasil masuk ke gang sempit.

Ia teregah-engah dikarenakan dorongan dan gencet-an warga yang berduyun-duyun mencoba keluar dari aera pasar.

tapi, meski sudah bisa menarik nafas dengan tenang, rasa penasaran Hamid malah semakin bertambah, ia masih bingung dengan apa yang terjadi.

Ia memberanikan diri menarik seorang warga ke gang itu.
seorang yang ia tarik adalah seorang anak kecil yang berumur sekitar 12-14 tahun.
“Hey! Kesini lah! Jelaskan, ada apa ini!” Hamid berkata seperti itu dengan nada yang tinggi sembari menarik kerah bocah itu.

“….Me-me-mereka datang! Para penjarah! Orc! Mereka datang untuk menginvasi kota!” jawab bocah itu dengan ekspresi wajah ketakutan.

Hamid hanya terkejut dan kehilangan kata-kata, ia melepaskan tangannya dari kerah bocah itu perlahan-lahan, ketika terlepas seketika bocah itu pun kabur entah kemana.

Dia bilang Orc? Penjarah? Invasi? Bukankah seharusnya kota ini aman? Ada apa ini? kenapa jadi seperti ini?
Hamid memegang kepalanya. Ia terus bertanya-tanya. Namun bagaimanapun, itu tidak akan mengubah kenyataan, kota ini sedang diserang.
Aku harus keluar dari sini!
Hamid memutuskan untuk keluar dari gang sempit itu dan mencari jalan untuk cepat-cepat keluar dari area pasar ini.
Namun sepertinya ia terlambat. Suara jeritan kesakitan wanita, anak-anak maupun pria dewasa terdengar disertai oleh suara dengusan dengan nada yang aneh.

Apa-apaan itu?

Hamid semakin panik, ia mempercepat langkah kakinya namun ia terjatuh, tubuhnya langsung terinjak-injak oleh orang-orang yang berjalan terburu-buru.
“S-siapapun, tolong…-Hughh!”
Ia harus menahan rasa sakit karena dari punggung sampai kepalanya terinjak-injak. Lagi, lagi, lagi dan lagi. Seolah tidak ada habisnya kaki-kaki itu menginjak-injak dirinya bagaikan sampah.

Suara-suara jeritan itu semakin banyak dan semakin dekat, begitu juga dengan suara dengusan aneh yang ia dengar, itu semakin dekat.

Setelah beberapa saat, kaki-kaki itu berhenti menginjak-injaknya. Ia berusaha berdiri namun tak disangka, sesuatu yang besar menginjak tubuhnya ke tanah dan tidak mengangkatnya.

“Le-lepaskan aku! Lepaskan!” Hamid meronta mencoba melepaskan injakkan kaki itu, namun bagaimanapun ia tak dapat melepaskannya dan malah terasa semakin menekan ke tanah.
Jelas, kaki itu terasa sangat berat dan berukuran tidak normal bagi manusia. Hamid menyadari itu, ia tau kalau yang menginjaknya adalah Orc, dan apa itu Orc? Bukankah harusnya hanya ada di dunia lain? Oh, benar juga…. Ini dunia lain.
Ia ketakutan, ia kebingungan, ia benar-benar panik.

Kenapa jadi seperti ini? Baru saja aku menyinggung invasi sekarang sudah terjadi!? Apa-apaan ini sebenarnya?

Baru saja ia memikirkan, sesosok makhluk Humanoid botak setinggi kurang-lebih 2 meter dengan badan besar dan kekar berkulit hijau dengan bintik-bintik merah yang tersebar di tubuhnya, hidung yang mancung(kedalam), gigi taring bawah yang mencuat keluar dari bibirnya yang berwarna hitam, iris mata berwarna kuning disertai sclera berwarna hitam dengan tatapan yang mencerminkan makhluk buas nan haus darah, makhluk itu berdiri dihadapannya. Makhluk itu mengenakan pakaian seperti terbuat dari kulit yang keras menutupi tubuhnya, membawa sebuah kampak besar dengan satu tangan.

“To-tolong! Siapapun! Tolong aku!” Hamid menjerit minta tolong sekuat tenaga, ia benar-benar sangat ketakutan, namun bagaimanapun tak ada siapapun yang akan menolongnya.

“Hyaa!!” ia menjerit dengan suara aneh ketika kampak besar menghantam tanah tepat didepan matanya. Jika ia sedang tidak ditindih, mungkin ia sudah melompat karena saking ngeri dan takut.

Orc mengangkat kampak besar yang menancap ditanah didepan Hamid, makhluk itu mengangkat kampaknya tinggi-tinggi seolah bersiap menghantamkannya sekali lagi, namun kali ini sepertinya bukan menakut-nakuti, tapi dengan niat membunuh.

“Ku-kumohon lepaskan aku, kumohon jangan, JANGAAAAN!!!” Hamid berteriak keras, namun sekeras apapun teriakkannya takkan sampai pada telinga makhluk besar didepannya.
Orc itu langsung menghantamkan kampak besarnya tepat di kepala Hamid, membuat kepala sampai ke lehernya terbelah menjadi dua.
Darah merah segar muncrat membasahi wajah dan tubuh orc itu, darah dan otaknya tercecer di jalan berbatu.
Sementara Orc itu hanya tertawa dengan puas melihat banyak orang terbunuh, termasuk Hamid sembari menendang tubuh yang sudah tidak bisa bergerak itu ke sisi jalan.

Aku tidak bisa merasakan apapun lagi,- tidak, lebih tepatnya saking sakitnya sampai-sampai aku tidak dapat merasakan apa-apa lagi… Gelap, semuanya gelap.. Apakah kepalaku hancur…. Lagi? Kenapa jadi begini? Lutvi, Hasbi.. Semoga kalian tidak kembali sekarang.. Maafkan, maafkan aku..

Hamid berkata dalam pikirannya, ia masih sadar dengan apa yang terjadi. meski begitu, kesadarannya perlahan-lahan memudar seiring dengan keluarnya asap hitam yang menyelubungi tubuhnya.



Terlalu gelap kah? Hmm, saya rasa tidak :v terlebih itu hal normal di genre fantasi gelap, haha.

Maaf terlambat update, karena saya juga punya kehidupan di dunia nyata. :v

Selamat menikmati.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *