Tragedi, Fantasi dan Dunia Lain – Chapter 3: Hari Yang Menyebalkan

“Kita kehabisan stok makanan…” Lutvi menundukkan kepalanya dan berkata dengan pelan.

“..aku ingin pulang..” Hasbi berkata dengan expresi sedih.

“….” sementara Hamid hanya diam saja dengan ekspresi datar.

Mereka bertiga duduk melingkar dalam ruangan sebuah bangunan tua tak terpakai sambil meratapi nasbi mereka yang kurang beruntung ini.

Yah, sudah tiga hari semenjak kedatangan mereka ke kota ini, atau lebih tepatnya ke dunia asing ini, mereka tetap tidak bisa melakukan apapun.

Bahasa dan Gaya Hidup yang berbeda membuat mereka tidak bisa melakukan apa-apa selain diam mengobservasi masyarakat, berharap bisa mempelajari sesuatu.
Namun, mereka juga butuh makan, dan saat mereka membutuhkan itu, mereka tetap tidak bisa apa-apa.
Menjual sesuatu pun percuma jika tidak bisa berbicara pada target.
Mereka juga pernah berfikir untuk mencuri makanan di pasar kota, namun harga diri mereka terlalu tinggi untuk melakukan hal hina semacam itu.

Tapi, alam liar juga terlalu buas untuk mereka, mereka terlalu takut menghadapi bahaya di sana sehingga menggugurkan semangat mereka untuk berburu dan juga persenjataan mereka yang tidak memadai.

“Hanya tersisa dua bungkus mie lagi.. Jika kita makan ini sekarang, sore nanti dan besok pagi kita makan apa? Ugh.. Sial, kondisi kita benar-benar buruk.”

“..kenapa hidup kita jadi seperti ini…. Bukan dunia lain seperti ini yang kuharapkan… Aku ingin pulang…” ucap Hasbi yang memeluk lututnya.

Melihat ini, Hamid yang sedaritadi diam saja, berdiri dan meninggalkan mereka yang tengah meratapi nasib.
Sebenarnya ia tidak tahan dengan drama seperti ini, membuatnya sedikit mual dan jijik.

“Kau mau kemana, mid?”
Namun, hanya beberapa langkah, Lutvi memanggilnya.

“Keluar.” Hamid langsung membalasnya tanpa berpaling.

“Keluar? Ayolahh.. Berhentilah main-main! Kau bahkan tidak membantu sama-sekali. Paling kau hanya duduk-duduk disembarang tempat dikota ini seharian tanpa melakukan apa-apa!” lanjut Lutvi dengan suara agak meninggi yang terdengar menggema di ruangan kosong. “Aku dan Hasbi sudah capek sejak hari pertama kita membersihkan bangunan tua ini, dan kau hanya berjalan-jalan seperti pengangguran saja!”

“Sejak kapan aku tidak melakukan apa-apa!?” Hamid berbalik melihat Lutvi dengan pandangan kesal. “Tiga hari ini aku habiskan untuk mengobservasi masyarakat! Melihat dan mempelajari apa yang dilakukan warga lokal disini sekaligus mencoba memahami bahasa setempat! Ini bukanlah pekerjaan mudah seperti membersihkan bangunan ini, kau tau!” lanjut Hamid dengan nada tinggi seolah-olah ingin menyaingi komplain Lutvi tadi.

“Dengar ketua, berbeda dengan kalian berdua yang malas-malasan, aku mencoba memahami perilaku penduduk lokal! Meskipun hasilnya belum terlihat, tapi aku sudah mengetahui beberapa informasi yang kudapat dari investigasiku ini!”

“Lalu? Ayolah, kesini sebentar.. jika kau tidak bohong, coba katakan hasil apa yang kau dapat dari ‘investigasi’mu itu! Lagipula ini untuk langkah kita selanjutnya juga, kan?” Lutvi melunak namun tetap menyuruh Hamid kembali ke tempatnya sebelumnya.

Hamid menarik nafas untuk menangkan diri, ia tak punya pilihan lain selain menuruti, terlebih sepertinya sang ketua mengerti apa yang dilakukannya akhir-akhir ini.

“Tapi sebelum itu… Ketua!?”
“Apa lagi!?”
“Tidak, itu… Apa anak itu baik-baik saja. Sedari tadi dia menangis.” Hamid menunjuk pada Hasbi yang menangis sambil meringkuk.
“Eeehhh!?” Lutvi yang baru sadar langsung menghampiri Hasbi.
Yah, saking sibuknya mereka bedebat sampai lupa kawannya yang sedang menangis.

“Oi, Hasbi.. Sudahlah… Duh gimana nih, oi, ayolah malu ama bulu kalau kau menangis ditempat ini! Hey ayolah.. Sudahlah!”
“…..pulang, aku ingin pulang…uhh.. *sob* Aku ingin pulang..*sob*”
Lutvi mencoba menenangkan Hasbi yang terus menangis.

“*sigh*…. Ketua, sepertinya mentalnya tertekan, aku merasa kasihan. Tapi, kembali ke topik awal, aku akan menjelaskan padamu tentang apa yang kudapat saat investigasi sejak hari pertama.”

“Ya, katakanlah!” Lutvi membalas seketika,

Hamid memasang wajah serius dan membersihkan tenggorokan.
“Baiklah, beberapa hal yang kudapatkan saat meneliti dunia ini adalah..
Waktu di dunia ini berjalan lebih cepat daripada di Bumi, menurut hasil investigasiku sehari semalam disini hanya 22,5 jam saja, tapi akupun tidak tau apakah masyarakat disini mengenal konsep waktu atau tidak, yang jelas, informasi itu belum kudapat.
Produk yang masyarakat lokal hasilkan berupa pakaian atau kain, gerabah, keramik, kaca, persenjataan, dan hasil pertanian berupa gandum, ternak, jamu-jamuan serta masih banyak yang belum kuketahui, oh iya, makanan lokal juga ada yang mirip dengan roti, yah, yang jelas, semuanya masih dalam level medieval termasuk metallurgi.
Sihir didunia ini adalah hal yang nyata dan umum, meski aku tidak tau apa yang menjadi sumber sihir mereka, tapi kurasa cara kerja sihir di dunia ini sama dengan cara di dunia kita.. Ah, kau mungkin tak percaya tapi dunia kita juga pernah punya sihir, meski sudah ketinggalan jauh oleh teknologi.
Persenjataan disini masih pada level yang rendah, dan sepertinya mereka belum sampai pada teknologi metallurgi modern.. terlebih sepertinya masih sangat jauh dari teknologi pembuatan bubuk mesiu dan senjata api.
Struktur masyarakat masih tidak kuketahui dengan jelas, dan juga aku tidak mengetahui apakah kota ini dipimpin oleh gubernur atau apapun bentuk pemerintahan, terlebih aku tidak melihat bangunan tinggi seperti kastil atau semacamnya disini.
Biasanya, anak-anak muda seumuran kita direkrut oleh seseorang yang berwenang untuk menjadi semacam prajurit sukarelawan atau apalah itu dan melindungi kota atau negara diperbatasan, itulah kenapa saat kita ke kota ini banyak yang membawa pedang, panah, warhammer, belati atau bahkan yang terlihat seperti penyihir berjalan-jalan dengan bebas tanpa takut terkena hukum, yahhh aku sih tidak mengerti apa maksudnya, entah negara ini sedang dijajah atau apa, aku tidak mengetahui.
Bahasa lokal yang dipakai disini juga aku mulai memahaminya, setiap kali aku melihat warga lokal saling bercakap-cakap, aku selalu mengerti inti percakapan mereka, meski aku tidak bisa berbicara dengan bahasa lokal, yah seperti itulah.
Dan juga… Ketua, Aku curiga dengan suatu hal, sepertinya bukan hanya kita yang dipindahkan ke dunia ini, namun juga orang lain dari dimensi, alam semesta atau planet yang berbeda-beda, soalnya aku melihat segelintir anak muda saat berjalan-jalan di daerah kumuh kota ini seperti mereka samasekali tidak bisa atau belum beradaptasi dengan lingkungan, tidak jauh beda seperti kita. Yahh entahlah… mungkin juga mereka hanya pengangguran hahaha..
Yah, sepertinya hanya itu yang bisa kusampaikan untuk saat ini… Aku akan menginvestigasi lebih lanjut serta mencari perbekalan untuk kita kedepannya.”

Lutvi yang mendengarkan laporan itu dengan seksama, ia sejak tadi memasang mimik wajah serius, namun Hasbi tertidur karena mungkin kelelahan setelah menangis.

“Hmmm… Jadi begitu ya.” Lutvi memegang dagunya seraya berfikir.
“Baik, terimakasih telah menyampaikan laporanmu, maaf telah menganggapmu tak berguna… Sekarang aku akan berfikir untuk langkah kita kedepannya.”

“Kalau begitu, aku akan keluar sekarang… Dan jika kalian ingin makan mie itu, makan saja, tak perlu pedulikan aku.”
“Yeah yeah, baiklah.”
Hamid berdiri dan melangkahkan kakinya menuju pintu, namun setelah hampir sampai, ia kembali lagi.
“Lho? Katanya mau keluar, tapi kau malah balik lagi..” Lutvi yang sedang mengambil mie menengok ke arah Hamid yang kembali seolah-olah mencari sesuatu.
“Aku lupa sesuatu.. Ah, ketua, dimana golok itu?”
“Golok? Kau cari saja di ruangan itu…” Lutvi menunjuk ke arah ruangan kosong “Tunggu dulu, kau mau kemana memangnya? Jangan bilang kau mau merampok ya!?” ia kemudian menatap Hamid dengan tatapan curiga.
“Ya ampun, mana mungkin aku melakukan sesuatu yang terlarang seperti itu! Aku hanya akan mencoba berburu, untuk makan kita nanti sore..”
“Eehh!? Bukannya kau sendiri yang bilang kemarin jika hewan-hewan yang hidup di hutan itu sangat berbahaya?” Tatapan Lutvi berubah menjadi tatapan khawatir.

“Memang… Tapi dalam keadan kita yang sekarang ini, tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain ini… Terlebih, kau juga sudah mengetahuinya, kan?” Hamid membalas tatapan khawatir Lutvi dengan sebuah tatapan dingin, sangat dingin seolah-olah beku bagaikan es.

Lutvi menunduk menghindari tatapan Hamid, ia melamun mengingat sesuatu di masa lalu, sebuah kejadian dan fakta yang sangat mengejutkan tentang siapa sebenarnya Hamid.

“….tua… Ketua…. Hoi ketua!”
“Ehh, maaf.. aku sedikit melamun tadi…” Hamid mengembalikan kesadarannya. saking fokusnya mengingat kenangan itu, Lutvi sampai kehilangan kesadaran beberapa saat. “Yeah, berhati-hatilah..”

“Hmph… Tunggulah disini dan jagalah Hasbi, seperti tipikal beta male introvert, dalam keadaan seperti ini pasti jiwanya terguncang,”
Hamid melihat Hasbi yang tertidur dengan tatapan kasihan.

“Hah… Jangankan cowok beta introvert, aku yang extrovert saja tetap terguncang… Dan yeah, baiklah.. Berhati-hatilah” Lutvi membalas.

Hamid kemudian mengalihkan pandangannya pada ruangan gelap yang Lutvi maksud, ia lalu memasuki ruangan itu untuk mengambil golok. setelah beberapa saat, kemudian ia keluar dari dari ruangan itu dengan golok bermerk Eagle Survival Machete ditangannya lalu ia keluar dari bangunan tua itu berjalan menyusuri jalanan kota.
Sambil berjalan, ia juga tetap memperhatikan prilaku warga lokal untuk menambah pengetahuannya.
Meski begitu, ia hanya mengerti sedikit apa-apa yang diucapkan warga.

“Sulit sekali mempelajari hal baru tanpa pembimbing, menyebalkan sekali.
Hah… Jikalau saja aku bisa cepat-cepat mengerti dan beradaptasi di lingkungan baru ini… Ah, mungkin seminggu kedepan aku sudah bisa beradaptasi…, yeah mungkin.. Tapi tetap saja, aku harus segera menemukan jalan keluar dan kembali ke dunia asalku.
Tapi, bagaimana? berapa lama? Seminggu? Dua minggu? Sebulan? Setahun?
Aaaahh…. Menyebalkan.
Yang penting sekarang adalah, aku harus mencari makanan untuk makan sore nanti.”

Hamid berbicara dan menggerutu dalam fikirannya.
Ia terus berjalan, tanpa disadari ia telah keluar dari kota. Meski begitu, ia tetap berjalan.


“Sudah berapa jauhkah aku berjalan? Dan sudah berapa lama?”

Tanya Hamid pada dirinya sendiri dalam fikirannya.
Ia berjalan sambil terus berfikir, namun ketika disadar ia telah memasuki kawasan hutan.

“Apakah aku akan menemukan hal bagus disini? Ataukah malah kesialan yang akan menimpaku? Entahlah… Yang jelas, aku harus menemukan buruan itu… Jika tidak, kawan-kawanku akan kelaparan.”

Ia menyusuri jalanan dengan rumput-rumput kasar dan semak belukar tajam, tapi berkat celana panjangnya, ia tetap terlindungi.
Ia menyabet semak belukar dengan goloknya untuk membersihkan jalannya.
Pohon-pohon besar dengan daun-daun berwarna kekuningan yang berjatuhan menghiasi setiap langkah Hamid yang entah mau kemana itu.
Setelah beberapa saat berjalan dan memasuki hutan yang lumayan lebat, ia mendengar sesuatu.
Ia pun secara refleks bersembunyi dibalik pohon dan mengintip sumber suara itu.
Ia berharap itu adalah hewan buruan seperti kelinci ataupun rusa atau yang lainnya.
Namun, ekspektasinya meleset.
Yang ia lihat adalah tiga ekor goblin yang sedang membakar sesuatu seperti daging hewan.
Satu diantara ketiga goblin itu membawa senjata berupa pedang pendek serta sebuah kotak yang terbuat dari kulit yang diikat di pinggangnya. terlihat dari manapun, itu adalah pemimpin dari goblin-goblin ini.

“Tsk… Sialan, kenapa aku harus bertemu lagi dengan makhluk bodoh buruk rupa ini..”

Hamid merasa kesal dan menggerutu dalam hati.
Namun ia harus tetap tenang dan mencoba berpikir jernih.

“Tapi, sepertinya mereka fokus dalam urusannya, ah.. Lebih baik aku tidak mengganggu mereka supaya mereka tidak menggangguku, terlebih jika aku dengan kondisi saat ini bertarung dengan mereka maka dipastikan takkan selamat, yah, bajuku takkan selamat..”

Hamid memilih cari aman dan memutuskan meninggalkan goblin-goblin ini dengan tenang.
Ia mengendap-endap berjalan dari pohon ke pohon mencoba melewati mereka dan sebisa mungkin tanpa terdengar suara, namun setelah beberapa langkah, ia membuat kesalahan fatal.
Ia menginjak ranting kering dan menyebabkan suara yang membuat goblin-goblin itu menyadari kehadirannya.
Dan mereka pun tanpa pikir panjang langsung mengejar Hamid.

“Duh, sial.. Dasar ranting kampret! Kenapa hal klise seperti ini terjadi!! Sialan!!”

Dalam hati Hamid, ia terus2an mencerca dan menggerutu sambil berlari dengan sekuat tenaga.

“Aduh Gusti, kumaha ieu… Lamun kieu wae baju kuring bisa beak sararobek!”
(Ya Tuhan, gimana ini.. Kalau gini terus bajuku bisa habis sobek-sobek)
(TL: Hamid menggerutu pakek bahasa Sunda saat dikejar goblin :v)

“Aaahh!!!”
Saking terburu-burunya Ia berlari, sampai-sampai ia tersandung dan terjatuh, tapi ia mencoba bangkit secepatnya.
Namun, goblin-goblin itu sepertinya berhasil mengejarnya dan tanpa basa-basi langsung menyerang.

Salahsatu goblin menangkapnya dan menindihnya, Hamid dengan cepat berusaha melepaskan diri dari goblin itu, namun goblin yang satunya behasil mengambil golok miliknya dan langsung menusukkannya pada Hamid.

“Ughyaaa..!!” Suara teriakan menggema didalam hutan, darah tumpah diatas tanah yang dihiasi daun-daun kering, suara terengah-engah terdengar seolah-olah terjadi luka berat.

Namun, darah yang tumpah itu bukanlah berasal dari Hamid, tapi dari goblin yang tadi menindihnya.
Yah, serangan goblin itu meleset dan malah mengenai temannya karena Hamid menggunakan tubuh goblin yang menindihnya sebagai tameng, ia berhasil menghindari serangan itu.

Nafas Hamid terengah-engah dan berat, keringat bercucuran serta jantung berdebar cepat membawa adrenalin keseluruh tubuhnya.

Ia sekarang menghadapi masalah serius, goloknya telah dicuri oleh goblin itu dan kini sedang melawannya.

Ia mengingat sesuatu, ia meraba kantung didalam jaketnya namun kali ini terasa sangat tipis.

“Ahh kampret!!!! Aku lupa membawa pistolku!” ia menggerutu lagi dalam hati. Ia lupa membawa senjata kesayangannya.

“Tidak ada cara lain! Aku harus menggunakan itu..”
Namun, ia tetap punya satu cara untuk menghadapi goblin itu.
Ia memantapkan dirinya, lalu memasang kuda-kuda.
Dari ciri kuda-kudanya, sudah tidak asing lagi. Ia menggunakan teknik Pamacan dari aliran silat Cimande.
Dan lalu, setelah Hamid memasang kuda-kuda, goblin itu berlari kearahnya dengan cepat.

“Aku tak pernah mencobanya dalam pertarungan sungguhan, tapi kuharap ini berhasil.. sangat disayangkan jika aku tak bisa menggunakannya setelah berlatih selama bertahun-tahun…, baiklah majulah kau makhluk sialan!!”

Goblin itu menebaskan golok dengan gerakan horizontal dari kanan ke arah Hamid, namun Hamid dengan sigap menangkap tangan goblin itu, menyelipkan kaki dibelakangnya dan mendorong goblin itu sehingga membuatnya terjatuh. “Rasakan ini!!” ia lalu dengan keras memukul tepat diwajah goblin itu dan membuatnya kehilangan kesadaran.

“Hah….hah…. Ini berhasil… Pertamakalinya aku menggunakan teknik itu dan ini berhasil! Haha.. Ini benar-benar berhasil!” Hamid mengangkat tangan dengan girang seperti mendapat sebuah pencapaian yang hebat.

Gambar ilustrasi
(Gambar hanya ilustrasi gerakan apa yang dilakukan oleh Hamid untuk mengcounter serangan goblin.)

Ia kemudian mengambil goloknya yang tergeletak ditanah lalu dengan tatapan haus darah serta seringai mengerikan, ia mengarahkan goloknya ke arah goblin yang kehilangan kesadaran.

“Fu….fuahahahhahaahhaha!!!!!” ia tertawa seperti seorang maniak.
“Bagaimana rasanya hah? Bagaimana rasanya menjadi makhluk yang ditakdirkan untuk mati!? Hahahaha!!! Ini akan mengakhiri kehidupanmu wahai makhluk rendahan! Sampai bertemu di Neraka!!!”

*sfx:Jlebb* :v

Ia langsung menusuk tubuh goblin yang masih terkapar ditanah itu.
Darah segar menyembur membasahi tanah dan cipratannya mengenai wajah Hamid yang terlihat seperti maniak haus darah seperti saat ini.
Lalu, ia memutilasi dua tubuh goblin yang tak bernyawa itu dan membawa kepala mereka bersamanya.

“Tinggal satu lagi! Saatnya membunuh satu lagi!!” ia bergumam sendiri dengan nada yang berat seperti dirinya telah dikendalikan oleh sesuatu.
Ia pun berjalan menuju tempat satu ekor goblin yang tersisa, yaitu si pemimpin kelompok goblin ini.


Api kuning kemerahan membakar kayu yang jadi bahan bakarnya.
Diatas api itu ada tubuh hewan seukuran kucing rumah yang telah dikuliti dan tanpa kepala yang dibakar tanpa ampun.
Serta, makhluk jelek bernama goblin yang membolak-balikkan daging itu supaya tidak gosong.
Sambil menunggu daging matang, ia berjalan kearah yang tadi anak buahnya berlari mengejar manusia yang tiba-tiba saja muncul.

Ia menggerutu sambil melihat kesana-kemari mencari anak buahnya yang ia harap berhasil membunuh manusia tadi.
Karena tak kunjung kembali, goblin itu akhirnya menyerah dan berjalan kembali menuju api unggun.
Ketika ia sampai, matanya tertuju pada dua benda asing yang yang berada didepan api itu.
Ia mengambil benda itu dan betapa kagetnya ia setelah menyadari benda itu adalah kepala dari anak buahnya.
Antara terkejut dan marah, ia melempar kepala rekan-rekannya itu dan melihat kesana-kemari mencari siapa yang melakukan ini.
Dan tiba-tiba matanya tertuju pada sesuatu yang tidak asing. Dari bentuk tubuhnya, itu adalah seorang manusia dengan baju hitam.
Tidak salah lagi, itu adalah manusia yang tadi anak buahnya kejar.
Manusia itu, yang tidak salah lagi adalah Hamid hanya berdiri dengan tatapan haus darah dan seringai mengerikan diwajahnya.
Melihat ini, goblin itu menggertakkan giginya, menatapnya dengan tatapan marah dan ekspresi murka.
Tanpa pikir panjang, ia langsung mencabut pedang pendek dari serangkanya yang berada dipinggangnya dan berlari menuju Hamid serta langsung menyerangnya.

Hamid dengan sigap menangkis serangan itu dengan goloknya.
Lalu ia dengan cepat melancarkan serangan balik berupa tebasan vertikal dari atas, namun goblin itu menghindarinya dan secepatnya membuat jarak dengan Hamid.

Hamid berlari menuju goblin itu menyerangnya dengan tusukan, namun goblin itu menghindar lagi. Goblin itu kemudian menyerang Hamid dan Hamid menangkisnya.

“Ho… Lincah juga kau, jelas kau berbeda dengan yang sebelumnya, fuaahahahahahahaha!!!”
Hamid tertawa seperti seorang villain sembari saling bertukar serangan dengan goblin itu.
Namun dalam pikirannya, ia sangat mengkhawatirkan goloknya menjadi tumpul.
Setelah membuat jarak yang cukup dari goblin itu, ia memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini secepatnya.

Ia lalu mencoba menenangkan tubuhnya dan seolah-olah membuka peluang bagi goblin itu untuk menyerangnya.

Melihat kesempatan ini, goblin itu dengan cepat berlari untuk menyerang Hamid.
Ia mengarahkan pedangnya menuju dada bagian bawah Hamid namun Hamid tetap tidak bergerak dari tempatnya, dan tidak menangkis serangan itu juga.

“Hughhh….” suara menahan sakit terdengar.
Darah mengalir dan menetes keluar dari baju hitam menuju tanah yang berhias daun rumput pendek.

Yah, darah itu berasal dari Hamid yang ditusuk oleh goblin itu dibagian bawah dadanya.

“Fufu…fuahahahahahahaha!!!” bukannya merasakan sakit, Hamid malah tertawa dan memasang wajah menyeramkan seperti seorang villain.
Ia kemudian mengenggam tangan goblin yang masih memegang pedang yang menusuknya itu dengan erat.
Goblin itu berusaha melepaskan diri namun percuma seolah-olah tubuhnya sudah dikunci oleh rasa takut.

“Fuahahaha… Sudah kuduga jika aku membuka ruang maka kau akan langsung menyerang.. Hahaha!!! Sayang sekali, tapi kau sudah masuk perangkapku.”
Hamid berbicara dengan nada seperti seorang villain, ia menatap goblin itu dengan tatapan mengerikan dan membuat goblin itu merinding dipenuhi rasa takut.

“Fuhahaha.. Matilah!!!” Hamid, yang ditangan kanannya memegang golok, mengangkatnya dan tanpa menunggu lagi langsung menebas goblin itu dilehernya sehingga kepalanya terputus dari tubuhnya.

Darah segar menyembur dan mengalir dari tubuh goblin tanpa kepala itu, menyebabkan jaket Hamid basah oleh darah.

“Hah… Hah… Akhirnya selesai… Huff..” Hamid duduk dihadapan tubuh goblin itu.
Ia menenangkan diri dari mode ngamuknya tadi.

“Hah… Menyebalkan sekali, bajuku penuh darah dan tubuhku bau amis darah goblin… Dan juga, ugh…” ia menyentuh pedang yang menancap didadanya.
“Hufhh.. Sialan, bajuku butuh perbaikan.. Dan juga, ugh… Akhhhh!!” dengan menahan rasa sakit, ia mecabut pedang yang menancap dari dadanya.

Setelah tercabut, dengan instan uap tipis keluar dari luka itu dan luka itu sembuh seketika.

“…Hahhh.” Hamid menyentuh luka yang kini sudah hilang itu.
“Jika bukan karena ajian itu, mungkin aku sudah mati tadi…” gumamnya dalam hati.

Ia berdiri dan menghampiri mayat goblin tanpa kepala itu lalu mengiris tali yang mengikat dipinggangnya dan mengambil tas kecil itu.

“Benda apa ini?” ia bertanya-tanya setelah membuka tas itu.
Yang ia dapatkan setelah membuka tas itu adalah satu gulungan kertas, tiga koin yang terbuat dari perak dan sebuah kalung yang terbuat dari gigi yang ia tidak ketahui.

“Koin ini mungkin bisa digunakan untuk membeli sesuatu di kota nanti… Lalu kertas ini…” ia membuka kertas itu. “ohh… kertas ini… Mungkinkah ini peta.. ah, aku tidak mengerti, mungkin akan kusimpan saja… Dan ini…” ia mengambil kalung itu dan membolak-balik untuk mengeceknya. “benda apa ini? Hmm, buang saja lah.. sepertinya bukan barang yang berharga.” ia melemparkan kalung itu ke semak-semak.
Pada akhirnya, ia hanya mengambil kertas itu dan koinnya saja, lalu ia mengambil pedang pendek yang digunakan goblin itu dan memasukkan pada serangka pedangnya serta membawa pedang itu bersamanya.

Ia memutuskan untuk kembali ke kota.
Hari ini ia merasa senang karena mendapatkan sesuatu yang lebih berharga daripada sekedar hewan buruan.
Yah, berkat goblin-goblin tadi, Hamid kini punya uang untuk membeli sesuatu dan tidak perlu khawatir untuk makan esok hari.

Daun-daun berguguran disepanjang jalan, membuat pemandangan didominasi warna kuning dan oranye, angin yang berhembus membawa daun-daun terbang menuju kejauhan dan saat itu pula Hamid merasakan sesuatu yang berbeda.

Ia merasa ada yang aneh didalam dadanya, rasa hangat dan nyaman ketika melihat pemandangan ini, sebuah rasa yang mirip dan berasal dari masa lalu saat ia melihat pemandangan sawah yang akan dipanen dari atas bukit.

Ia menarik nafas panjang sambil menikmati sejuknya hembusan angin yang menerpa wajah dan tubuhnya, meski matahari bersinar dengan terik, ia tak merasakan panasnya sama-sekali.

Setelah itu, ia kembali berjalan untuk kembali ke kota.


“Si Hamid lama banget, ada apa ya? Hmm..”
Lutvi bergumam sambil membersihkan tumpukan jerami yang berada diatas ranjang kayu tua berjamur. Ranjang itu masih terlihat kuat meski sudah banyak ditumbuhi jamur di kaki-kakinya. Terlebih karena ruangan ini begitu redup, namun cahaya masih bisa masuk melalui jendela tak berkaca yang berada di arah yang berlawanan dengan ranjang.

“Penghuni sebelumnya uyuhan gak merang tidur diatas jerami kering, udah mah bulukan kieu deuih.. Uhh..”

Lutvi mengambil dan menurunkan jerami yang sudah berjamur itu ke lantai yang terbuat dari papan kayu.

“Oi Hasbi, cepatlah kesini, bantu aku membuang jerami ini!”
Ia memanggil kawannya untuk membantunya.

“Baik!” terdengar suara sahutan dari lantai bawah.

Tak berapa lama, Hasbi datang pada Lutvi.

“Tolong simpan ini dibelakang, taruh ditempat yang sejuk dan jauhkan dari sinar matahari….” ucap Lutvi pada Hasbi yang baru datang, sementara itu Hasbi hanya mengangguk saja. Ia mengambil jerami yang sudah ditumpuk dilantai tanpa sepatah katapun. Kemudian, ia berjalan keluar dari ruangan itu. Setelah beberapa langkah, ia kembali lagi.

“Ketua, apa maksudmu dengan ‘taruh ditempat sejuk dan jauhkan dari sinar matahari.’.?”
Hasbi kebingungan dengan Lutvi yang memerintahkan hal itu, terlebih benda yang dimaksud adalah jerami yang sudah bulukan.

“pffft…” Lutvi menahan tawa setelah menjahili temannya yang polos itu.
“hahahaa….Ya ampun, kau langsung menelan begitu saja perkataanku, hahaa.. mana mungkin jerami disimpan ditempat seperti itu, seperti produk makanan kaleng saja, haha…” Lutvi memegang perutnya karena tertawa terlalu keras, sampai-sampai air matanya keluar.

“Heuh… Orang bingung malah diketawain, kau menyebalkan!”
Hasbi terlihat tidak senang dengan Lutvi yang mempermainkannya.

Ia pun melangkahkan kakinya keluar dan segera menuruni tangga meninggalkan Lutvi yang masih tertawa di kamar itu.

Setelah itu, ia keluar lewat pintu belakang dan meletakkan jerami tersebut dekat pagar dinding yang menjadi penghalang antar rumah.

Ia berjalan ke ruangan redup tempat penyimpanan tas mereka untuk mengambil sesuatu, sesampainya disana, matanya tertuju pada suatu benda berwarna silver yang memantulkan cahaya walau didalam ruangan redup.

Hasbi menghampiri benda itu. “Ini kan punya si Hamid -hoo… Ketua! si Hamid kemana!?” ia berteriak memanggil Lutvi yang berada di lantai atas.

“Hah? Apa? Gak kedengeran! Suaramu terlalu kecil.”
Lutvi menyahut setelah Hasbi memanggilnya.

“Kau ini budeg atau apa!, si Hamid mana, si Hamid!!” Hasbi berteriak sekali lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

“Wah, berani banget ya ngatain ketuamu ini budeg! Awas kau!… Oh, si Hamid? dia dah pergi sedari pagi waktu kau tidur karena menangis, emang ada apa?”

“Ah, tolong lupakan soal menangis tadi, Ini… Sepertinya dia ninggalin barang yang penting, pistolnya gak dibawa!”

“eehhh!? Seriusan!?”

“Suer, beneran… Kesini dulu lah, ketua!”

Lutvi segera berlari menuruni tangga dan menuju Hasbi yang tengah berada diruangan itu.

“Ketua! Ambil Ini…” Hasbi melemparkan pistol itu pada Lutvi yang baru saja membuka pintu kayu kamar itu, tapi dengan sigap, Lutvi menangkapnya.

“Ini beneran… Jadi dia cuma bawa golok doang.. Tapi kenapa? Bukankah pistol ini sangat diperlukannya jika berburu? Hmm…” Lutvi sembari melihat pistol ditangannya bergumam sendiri.

“Ketua, memangnya si Hamid pergi kemana sih?” Tanya Hasbi pada Lutvi yang tengah memikirkan kemungkinan alasan Hamid meninggalkan pistolnya.

“Ah, yak.. Dia bilang sih mau berburu ke hutan, tapi entah kenapa sampe jam segini dia belum balik… Padahal waktu udah sore.” Lutvi mengecek jam tangannya dan melihat waktu pukul 15.29 WIB, namun langit sudah mulai berwarna oranye. Ia juga menyadari bahwa waktu di dunia ini berjalan lebih cepat daripada di Bumi setelah perdebatan singkatnya dengan Hamid saat pagi, namun jika melihat ini, rasanya hari berganti terlalu cepat.

“Perasaanku tidak enak, apakah akan terjadi sesuatu padanya? Ketua…”

“Aku tidak yakin, terlebih dia bukan orang yang gampang mat-.. Eh, maksudku, dia bukan orang yang gampang dilukai, terlebih kemampuan beladirinya yang diatas rata-rata, jadi yah.. Mungkin dia aman… Yeah, mungkin.”

“Tapi, itu ‘mungkin’ kan? Dan juga, bukankah kalian yang mengatakan di hari-hari sebelumnya bahwa di hutan sana ada hewan predator besar semacam Macan Kumbang Sabertooth, atau Dire Wolf yang tingginya hampir 2 meter, dan juga kelinci bertanduk pemakan daging yang sadisnya luar biasa… Apa kau tidak khawatir pada temanmu?”

“Tentunya aku sangat khawatir, tapi bagaimana lagi.. Dan juga….” Lutvi menundukkan kepala dan berusaha memantapkan hatinya. Ia mendongak dan menatap Hasbi dengan serius.

“Hasbi, aku akan memberitahumu sesuatu, tapi tolong.. Ini hanya rahasia kita bertiga.. Jangan sekali-kali ungkapkan hal ini pada orang lain, atau Hamid akan sangat marah.”

“Kau ini ngomong apaan sih ketua? Aku tak mengerti.” Hasbi hanya memiringkan kepalanya dan terlihat kebingungan dengan perubahan tiba-tiba Lutvi.

“Dengarkan, ini bukanlah lelucon atau apapun, ini adalah hal nyata.. Hamid sebenarnya adalah-..”

“”Huh!?””

Sebelum Lutvi menyelesaikan perkataannya, suara gebrakan terdengar, asal suara itu adalah pintu depan.
Lutvi dan Hasbi pun langsung bergegas menuju pintu depan. namun, betapa kagetnya mereka setelah melihat siapa yang ada disana mereka.


Beberapa Jam yang lalu

“Huekk!! Badan dan bajuku bau amis semua, bau darah goblin!.. Ugh.” Hamid berdiri ditepi sungai, ia mengeluh dengan apa yang terjadi padanya.
Yah, darah goblin yang menempel padanya sudah mengering dan meninggalkan bau tak sedap pada tubuhnya.

Ia berjongkok melihat aliran sungai yang membawa daun-daun yang berguguran ke hilir.
“Sepertinya, menyusuri sungai ini ke arah hulu maka akan sampai ke kota itu, yah. Mau bagaimana lagi, aku lupa jalan pulang..”
Ia mengambil nafas dalam-dalam dan melepaskannya secara perlahan untuk menenangkan diri.

“*sigh*… menyebalkan sekali, hari ini buruk… Sangat buruk, ah terserahlah.. Sekarang lebih baik aku harus mandi..” gumamnya pelan, ia pun membuka jaket yang dilumuri darah kering serta celana panjangnya.
Menyisakan celana bokser dan baju kaos berwarna abu-abu dengan sedikit sobekan pada area dadanya dan darah yang sudah mengering.

Ia menengok kesana kemari untuk memeriksa tidak ada siapapun yang melewati jalan ini, setelah ia rasa aman, ia mulai membuka baju kaosnya.
Namun, sebelum ia membukanya, terdengar suara aneh dari arah kanannya.
Suara seperti geraman seperti hewan sejenis kucing.

Ia pun dengan spontan menengok ke arah datangnya suara itu.
Setelah melihat kesana, matanya terbelalak, detak jantungnya semakin kencang dan ekspresi wajah yang seolah-olah ketakutan, ia terkejut bukan main.

Yang ia lihat tak lain adalah macan kumbang sabertooth dewasa berbadan besar dengan tatapan tajam mengarah padanya, melangkahkan kakinya dengan pelan menghampiri Hamid dengan posisi seola-olah ingin menerkamnya.

Kucing Besar Gigi Pedang
(Gambar hanya illustrasi)

“Makhluk itu…. Oh tidak, pasti dia tertarik dengan bau darah di bajuku ini…. ini gawat! bisa-bisa bajuku terkoyak. Ya ampun! Hari ini benar-benar buruk! Jika bertambah buruk lagi aku akan bertekad takkan pernah keluar dari kota! Sungguh!!” ia dalam hati terus-terusan mengeluh, namun itu percuma saja.

“Tapi mengeluh pun percuma, takkan bisa membuatnya pergi… Meski aku berlari secepatnya, pasti akan terkejar dan dia akan menerkamku serta merobek bajuku. Tapi melawanpun sama saja resikonya… Aahhh, terserahlah! Tak ada pilihan lain!”
Hamid berusaha tenang meski bahaya sudah berada didepannya dan ingin menerkamnya, ia dengan pelan mencoba mengambil pedang pendek dan goloknya yang berada diatas tanah.

Melihat ini, harimau itu langsung berlari dengan kecepatan yang luar biasa ke arah Hamid dan langsung menerkamnya.

Hamid menghindari terkamannya dengan menggulingkan badannya ke arah kanan. Ia selamat dari terkamannya, namun. “Gughh!!” sebuah cakaran mengenai tubuhnya dan membuatnya tersungkur.
“Arghh!! Monster ini lebih cepat dan kuat daripada goblin yang tadi siang.” ia menggerutu dalam hati.

Ia berusaha bangkit namun punggungnya ditahan oleh salahsatu kaki harimau itu sehingga membuatnya tak bisa bergerak. tanpa jeda waktu, harimau itu langsung menerkam leher bagian belakang Hamid.
Gigi taring tajam dan besar itu menembus lehernya menyebabkan rasa sakit tak terkira.
Hamid hanya bisa berteriak dan meronta-ronta, darah segar keluar dari mulut dan lehernya yang diterkam harimau itu.

Setelah beberapa saat, Hamid tidak meronta-ronta lagi, dan harimau itu melepaskan gigitannya karena menganggap buruannya sudah mati.

Melihat kesempatan ini, Hamid langsung memanfaatkannya dengan berdiri dan mencabut goloknya.

“Hah….hah….hah… Itu benar-benar sakit, kau tau!? Meski ini sia-sia-.aaackki!”
Tanpa mendengarkan perkataan Hamid, monster itu langsung menerkamnya dan mencakarnya tanpa ampun menyebabkan pakaian Hamid terkoyak dan bercucuran darah, meski begitu, luka-luka itu langsung sembuh seketika.

Tapi, sepertinya monster itu tak menyerah, ia menggigit tangan kanan Hamid dengan keras, Hamid pun meronta-ronta lagi serta mencoba melepaskan gigitannya.
Namun, itu percuma karena gigitannya sangat kuat.
Harimau itu tanpa ampun menggigitnya, mencoba mematahkan tangan Hamid sementara Hamid hanya berteriak kesakitan.

Dalam sekali tarikan, terlepaslah tangan Hamid dari tubuhnya.
“Aaaaaargghhhhhhhhhhh!https://t00.deviantart.net/XAFSP90rGk4L_3qXvGfBVaYpiYg=/fit-in/700×350/filters:fixed_height(100,100):origin()/pre00/ed1c/th/pre/f/2011/290/6/a/commission__raiveh_by_chireiya-d4d6vbj.png!!!!!!! Ta-Tanganku!!!!” Hamid berteriak sekerasnya, ia menahan rasa sakit sampai berguling-guling ditanah dengan mem Hasbi berteriak sekali lagi dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.

egang tangannya yang buntung.
Sementara harimau tadi pergi begitu saja membawa tangan Hamid.

“SIALAN!!! SIALAN!!! Ini sakit sekali, ini benar-benar menyakitkan!! Terkutuk kau makhluk sialan!!!”
Ia berteriak-teriak sambil melayangkan kutukan pada harimau yang sudah pergi sejak tadi.
Setelah itu, ia berusaha bangkit dan menenangkan diri.

“Aaahhhh!!!!, sakit sekali… Butuh waktu 15 menit untuk menumbuhkannya lagi seperti semula.” Hamid bergumam sambil menyentuh tangannya yang buntung, ia meringis merasakan sakit.
Ia duduk ditepi sungai sambil menunggu tangannya tumbuh lagi.

“hahhhh…. bajuku terkoyak.. Sepertinya tidak tertolong lagi hadehhh…” Ia mengeluh karena bajunya rusak, terlebih sudah tidak tertolong lagi. Ia melihat langit yang sudah mulai menguning, senja telah datang tanpa ditunggu.
“Pulang ah, Udah sore.. Kasian temen-temen belom pada makan.” ia bergumam lagi sambil memakai celana panjangnya dan mengambil jaketnya yang berada ditanah.

“Yeah, semoga saja uang ini cukup…” ia merogoh kantung celananya dan melihat uang koin dari perak yang didapatnya tadi siang. “Yeah, semoga saja.” lalu, ia berjalan menyusuri sungai ke arah hulu untuk menuju kota.


“Yo! Ketua.. Hasbi..”

“Hamid, kau…”

“Akhirnya kau pulang, aku sempat khawatir tau. Apa kau mendapatkan buruan?”

Yah, seseorang yang menggebrak pintu itu adalah Hamid yang berdiri dengan wajah lesu, baju yang compang-camping dengan sisa darah kering, pedang pendek dan golok dipinggangnya, jaket yang ia sangkutkan dipundaknya dan bau darah bercampur keringat pada tubuhnya.

“Hamid… Kau terlihat kacau sekali, Sepertinya kau menghadapi hari yang sulit.” ucap Hasbi datar.

“Kau bau, cepatlah mandi!” sementara Lutvi, ia menyuruh Hamid untuk segera bersih-bersih karena tidak tahan dengan bau tubuhnya.

“Yah begitulah, kurasa hari ini benar-benar sulit untukku. ah.. Ya, baiklah… Maaf ketua, aku tak mendapatkan buruan…” Ucap Hamid yang terlihat lesu seraya menundukkan kepalanya.

“Tidak apa-apa, yah, setidaknya kau selamat. cepatlah mandi, urusan hewan buruan bisa kita selesaikan setelah kau mandi. Badanmu sungguh bau!”

“Baiklah, hahhh…”

Hamid memasuki rumah itu dan segera kebelakang untuk mandi dan mencuci jaket kesayangannya, celana bokser, celana panjangnya, sementara baju kaos yang sudah tak tertolong lagi ia jadikan lap.

Setelah semua itu selesai, ia langsung menghadap Lutvi dan Hasbi di ruang utama.

“Jadi… Kau benar tidak mendapatkan apa-apa?” Hasbi bertanya pada Hamid yang baru saja duduk diantara mereka.

“Tidak, aku mendapatkan sesuatu. Kau lihat kan pedang pendek itu.. Itu yang kudapatkan.” Hamid langsung menjawabnya.

“Hanya itu saja, kah?” tanya Lutvi. “Jika hanya itu, berarti kita takkan makan malam ini dan besok pagi.” lanjutnya.

“Ah nggak, sebenarnya aku mendapatkan ini..” Hamid mengambil tiga koin perak hasil berburu goblin dari kantung celananya. “Ini.. Mungkin bisa kita gunakan untuk membeli makanan, atau bahkan alat-alat dapur, alat-alat mandi dan lainnya.”

“Koin perak? Tunggu dulu! Kau mendapatkan uang ini darimana!?”
Lutvi bertanya pada Hamid dengan tatapan curiga, seolah-olah ia adalah seorang polisi yang menginterogasi penjahat.

“Tenanglah ketua! Tenang,.. Aku tidak mendapatkan ini dari merampok atau mencuri, sumpah!! Aku takkan melakukan hal keji semacam itu!” Hamid menjawabnya seperti seorang maling yang ketahuan mencuri.

“Lagipula, ketua.. Bukankah dalam kondisi kita yang seperti ini, hal itu dibolehkan? Maksudku bukan merampok, tapi mengambil sedikit uang pejabat korup misalnya.” Hasbi mengikuti alur percakapan mereka.

“Kau ini! Mana ada hal seperti itu diperbolehkan! Lagipula kita juga gak tau siapa pejabat yang menguasai daerah ini… Huhh… Baiklah, Hamid.. Jelaskan padaku bagaimana kau mendapat uang ini.”

“Baiklah… Aku mendapatkan koin ini karena tidak sengaja bertemu sekelompok goblin.-”

“Goblin!? Kau memburu goblin!?” Hasbi langsung memotong perkataan Hamid saat ia mendengar kata ‘goblin’.

“Y-ya, gitulah, tapi dengarin dulu atuh, jangan maen nerobos wae omongan orang! Kumaha sih!” Hamid dengan nada kesal menjawab pertanyaan Hasbi. “Mereka berjumlah 3 ekor, satu diantara mereka adalah semacam pemipinnya mungkin. Aku diserang oleh mereka dan mau tidak mau aku melawan mereka dengan alat seadanya yaitu golok, karena aku lupa membawa pistolku.” lanjutnya.

“Oh.. Jadi begitu.. Lalu uang koin ini?”

“Ini kudapat setelah membunuh goblin yang terlihat seperti pemimpin itu, dia sangat hebat kurasa, aku sampai kewalahan. Dan juga disamping mendaptkan koin perak ini, aku mendapatkan pedang pendek yang disana itu. Pedang itu dipakai oleh si pemimpin.”

“Hmm, begitu ya.. Yah, baguslah kalau begitu… Berarti ini uang halal. Ayo kita belanjakan!~”
Lutvi, setelah mendengarkan cerita Hamid, ia serasa menjadi lebih bersemangat. Mungkin harapan hidupnya sudah muncul lagi.

“”Ya, baiklah..””
Dan mereka berdua pun setuju.


“*sigh* Aku tak mengira bahwa dua koin perak cukup untuk membeli peralatan dapur seperti panci, ceret, penggorengan sampai piring-piring serta alat mandi. Sayangnya disini gak ada odol.. Tapi mereka sepertinya pakai siwak.”

Lutvi, duduk di halaman rumah tua itu sembari menghisap rokok dan memandang langit malam yang ditaburi bintang-bintang.

“Apa yang kau maksud piring-piring? Kita hanya membeli tiga piring, tiga mangkuk, tiga sendok, garpu dan cangkir.. Dan yaah, kurasa kau benar dibagian itu, ketua… Dan kita punya sisa 73 koin perunggu.”

Disebelahnya, ada Hamid yang ditangan kirinya memegang rokok dan ditangan kanannya secangkir kopi hitam yang tersisa dari bekal mereka.

Sementara Hasbi, ia tengah sibuk mengamparkan matras pada ranjang tua di lantai atas.

“*sruuppp* ahhh…. Sudah kuduga, rasa pahit kopi ini bisa sedikit menenangkanku, hari ini kacau sekali.”

“Yeah, sudah terlihat dari wajahmu kok, bahkan sejak kau datang haha… Tapi kau lumayan juga bisa mengerti perkataan orang-orang lokal padahal belum seminggu kita disini… Kau melakukan pekerjaanmu dengan baik.”

Hamid menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya perlahan.
“Entahlah, dan juga… Bukankah hal yang sama terjadi padamu, ketua? Saat di reruntuhan kota itu..”

“Itu berbeda, saat itu aku hanya menebak-nebak saja.” Lutvi menghisap rokok ditangannya dalam-dalam. “berbeda denganmu yang langsung mengerti… Haha, tapi tadi lucu juga saat kau tergagap-gagap mencoba berbicara pada penjaga toko tadi, sampai membuat perutku sakit.. Hahaha” lanjutnya sambil tertawa.

Hamid menarik nafas dalam-dalam dan melepaskannya perlahan.
“Hemph… Tertawalah sepuasmu, lagipula mau bagaimana lagi.. Pengetahuanku belum cukup saat ini.” ia membalas dengan santai.

“Ngomong-ngomong, bajumu yang tadi sepertinya tidak bisa diperbaiki ya? Kenapa kau tidak beli baju lagi? bukannya bajumu tinggal satu sekarang?” Lutvi mulai menyinggung baju Hamid yang terkoyak saat ia pulang tadi.

“Aku tak akan membeli baju baru untuk saat ini, setidaknya sampai aku mendapatkan uang lagi… Yah, lagipula, bajuku menjadi seperti itu bukan karena goblin. Jadi aku akan pergi berburu goblin di lain waktu.”

“Huh? Seriusan?” Lutvi terkejut, tadinya ia menyangka bahwa itu ulah goblin, ternyata ekspektasinya meleset. “Jadi? Kenapa baju mu sampai seperti itu?” tanyanya.

“Macaan kumbang gigi pedang.” Jawab Hamid dengan serius. “Monster itu mencabik-cabik tubuhku tanpa ampun, dan bahkan mematahkan serta mencabut tangan kananku lalu kabur entah kemana… Tapi, untungnya bisa tumbuh lagi dalam waktu 15 menit… ” Jawabnya dengan suara agak tajam seperti menyimpan dendam.

Sementara Lutvi membayangkan tentang tumbuhnya tangan Hamid seperti tokoh utama di film Dedpul yang memotong tangannya sendiri lalu tumbuh lagi.

“Pasti itu menyakitkan.”

“Sangat menyakitkan, itulah kenapa saat dulu kau menanyakan tentang ajian itu aku langsung menolaknya. Ajian itu adalah kutukan, sekali kau menguasainya, maka selamanya kau takkan bertemu kematian.” pungkas Hamid dengan serius.

Lutvi hanya menundukkan kepalanya mengingat ambisinya dulu saat pertamakali bertemu Hamid.
Sampai ia menyadari bahwa ajian itu memang mengerikan dari apa yang terjadi pada temannya itu.

“Hey ketua, aku akan tidur sekarang.. Dan sepertinya Hasbi juga sudah tidur.” Suara Hamid menyadarkan Lutvi dari lamunannya.
Hamid kemudian menghisap rokoknya dengan kuat untuk penghabisan serta meminum sisa kopinya dengan sekali tegukkan dan berjalan memasuki rumah tua itu.

Lutvi masih terdiam, ia tak mempedulikan temannya yang meninggalkannya sendirian di beranda.
Ia memandangi langit malam yang bertabur bintang-bintang dan dihiasi dua Bulan serta diselangi dengan mengisap rokoknya.

Dalam fikirannya, ia masih bertanya-tanya kenapa dia ada disini dan apa yang menyebabkannya.
Namun, sebanyak apapun ia bertanya, jawabannya takkan pernah ia temukan. Setidaknya tidak untuk sekarang.

Setelah rokoknya habis, ia melihat jam ditangannya.

“Baru jam 8 ya? Hmm.. Suasananya sudah sangat sepi, mending tidur dah.”

Kemudian ia pun berdiri dan melangkahkan kakinya memasuki rumah tua yang kini menjadi markasnya.

hr /

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *